“Bersedeqahlah kalian, karena sesungguhnya akan datang satu masa atas kalian, pada masa itu ada seorang laki-laki berjalan dengan membawa sedeqahnya, tapi tidak mendapatkan orang yang mau menerimanya. Pada masa itu ada seorang laki-laki berkata: “Seandainya kamu membawa sedeqah itu kemari, tentu aku akan menerimanya. Adapun hari ini aku tidak lagi membutuhkannya”.(R. Bukhari).
Di dalam hadist yang lain Rasulullah saw. mengisyaratkan, bahwa kelak akan terjadi satu masa, dimana pada waktu itu ada seorang laki-laki berkeliling dengan membawa shadaqah emas namun tidak menjumpai seorangpun yang mau menerimanya.
Dari dua isyarat Rasulullah saw. itu, dapatlah dimengerti bahwa kemungkinan pada masa itu harta melimpah ruah, hingga tidak ada seorangpun yang membutuhkannya. Disana-sini banyak diketemukannya sumber rezeki, tambang emas, batu bara, minyak dan lain sebagainya. Dengan sumber tambang itulah maka pemasukan inkam negara dan penduduknya menjadi banyak, bahkan melebihi dari yang dibutuhkan, tidak membutuhkan bantuan orang lain, biarpun ada orang memberikan emas kepadanya, ia tidak mau menerimanya.
Pada masa itu orang-orang menjadi kaya, dan mengerti kekayaan itu sebagiannya harus dizakatkan atau disedekahkan pada orang lain yang berhak menerimanya. Tapi masa itu sulit bagi orang kaya mendermakan dan mengeluarkan zakatnya.
Dari pengertian itu pula menunjukkan pada manusia untuk bersegera mengeluarkan zakat hartanya atau mengeluarkan sedeqahnya sebelum datangnya hari kiamat.
- Balasan orang yang bersedeqah dalam jalan Allah.
“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah seperti dengan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh butir, di tiap-tiap butir seeratus biji. Allah melipat gandakan (pahala) bagi orang yang dikehendakinya. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui”.(Al-Baqarah: 261).
Sedeqah yang diberikan kepada yang berhak menerimanya dapat menolak derajat kematian yang jelek. Dan dapat membendung macam-macam kebusukan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Qudha’i dan Thabrani.
“Sedeqah itu dapat menolak derajat kematian yang jelek”.(R. Qudha’i).
“Sedeqah itu dapat membantu tujuh puluh pintu kejelekan”.(R. Thabrani).
- Barang yang disedeqahkan hendaklah dipilih yang baik dan ia sendiri masih mencintai. Dan lebih baik lagi diberikan secara sembunyi-sembunyi untuk menghilangkan rasa riya’.
Firman Allah surat Ali-Imran: 92
“Kalian tidak akan mendapatkan kebaikan, hingga kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa saja yang kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”.
Firman Allah surat Al-Baqarah: 271
“Jika kalian menampakkan sedeqah, maka itu adalah baik. Dan jika kalian menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikannya itu lebih baik bagimu”.
Dengan turunnya ayat di surat Ali-Imran: 92 itu ternyata mendapatkan sambutan yang baik dari kalangan sahabat, diantaranya:
- Abu Thalhah yang amat terkenal karena kebunnya subur dan luas tak ada bandingannya itu diserahkan kepada Rasulullah untuk sabilillah.
- Zaid Bin Haritsah, anak angkat nabi saw. beliau mempunyai kuda tunggangan yang amat dikasihinya, setelah mendengar ayat itu turun, langsung menemui Nabi dan kuda itu diserahkan kepada Nabi untuk sabilillah.
- Umar Bin Khattab pernah menghadiahkan kepala kambing yang telah dimasak kepada tetangganya. Karena tetangga itu ingat dan ingin mengamalkan ayat itu maka kepala kambing itu dihadiahkan kepada tetangga yang lain, begitu masakan itu berpindah sampai rumah yang ketujuh. Dan dari rumah yang ketujuh ini memandang Umarlah yang mungkin lebih menginginkan makan masakan ini, maka masakan kepala kambing itu kembali lagi kepada Umar Bin Khattab.
- Tidak usah menyebut-nyebut kembali pemberian atau menyakiti orang yang diberi, sebab demikian itu akan menyebabkan sedeqahnya sia-sia.
Firman Allah surat Al-Baqarah: 262
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah kemudian tidak mengikutkan apa dinafkahkan itu dengan menyebut-nyebut kembali dan tidak menyakiti, baginya pahala disisi tuhannya. Dan tiada bagi mereka itu rasa takut dan rasa susah”.
Firman Allah surat Al-Baqarah: 264
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian merusak sedeqah dengan menyebut-nyebut kembali dan menyakiti. Seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan tidak karena beriman kepada Allah dan hari Akhir. Perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada debu, kemudian debu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah batu itu bersih.Mereka tidak lagi menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan”.
- Ancaman bagi mereka yang tidak mau sedeqah atau zakat.
Firman Allah surat At-Taubah: 34
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di jalan Allah, maka gembirakanlah mereka itu dengan siksa yang pedih”.
Firman Allah surat Ali-Imran: 180
“Janganlah menyangka orang-orang yang bakhil dengan karunia yang diberikan oleh Allah kepadanya itu lebih baik baginya, tetapi itu lebih busuk baginya. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak dihari kiamat. Dan kepunyaan Allah segala warisan dilangit dan dibumi, dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan”.
Hadist riwayat Ibnu Khuzaimah Nabi bersabda:
“Tiga golongan yang mula-mula masuk kedalam neraka, yaitu penguasa penindas rakyat, orang yang kaya yang tidak mendatangkan haknya Allah dari hartanya, dan orang yang fakir tapi sombong”.